Mengenai Saya

Foto saya
Imoet...imoet...imoet... If there is a will, there is a way

Minggu, 23 Januari 2011

Bukan Iri, Hanya Sedih

"Assalamualaikum.."
Terdengar suara Rudi yang mengucapkan salam tepat kearah dua sahabatnya, Fiza dan Aldy.

Fiza dan Aldy yang saat itu sedang asyik berinternet ria, spontan kaget dengan kedatangan Rudi.
"Waalaikumsalam...", jawab serentak dari mulut mereka berdua.

"Oya bes...ni undangan kawan kita itu, wajib datang ya klen semua !!", lanjut Rudi sambil menyerahkan selembar undangan pernikahan salah satu teman mereka.

Aura wajah Fiza spontan berubah. Bukan marah, benci, atau iri dengan selembar undangan tersebut. Karena sebenarnya, beberapa minggu sebelumnya kabar itu sudah terdengar ditelinganya. Dan sempat meminta izin ke Aldy untuk tidak ikut serta mengahadiri undangan tersebut, dengan alasan hatinya tak sanggup menyaksikan acara sakral itu. Bukannya iri, tapi hanya sedih. 

Wajahnya berubah sedih, matanya berkaca-kaca ingin menumpahkan butiran bening yang tiba-tiba sudah menumpuk dipelupuk matanya. Yaa...!! fiza sedih karena sampai harini, dia dan Aldy belum juga menikah dan menjalankan sunnah rasul seperti sahabat-sahabat mereka yang lain yang sudah menikah dan punya momongan. Fiza sedih, seharusnya ketika mereka akan menghadiri cara sakral tersebut, mereka berdua sudah menjadi sepasang suami istri yang sah semenjak beberapa bulan yang lalu. Namun gagal karena pertentangan dari dua pihak keluarga.
Dengan sekuat tenaga Fiza berusaha meredam kesedihannya, mencoba menarik kembali butiran bening yang numpuk di pelupuk matanya. 

Aldy, yang sedari tadi duduk disamping Fiza, diam-diam memperhatikan gerak geriknya. Tak hanya Fiza yang merasa sedih, tapi Aldy juga turut merasakannya. Fiza yang berdiam diri menoleh kearah Aldy dengan tatapan kosong dari matanya. 
       
    "Cyg sedih yach???, yang sabar yach...abang sayang de". bisik Aldy ke Fiza sambil mengelus lembut kepala Fiza.

Mendengar untaian kata yang telah keluar dari mulut Aldy, Fiza tak kuasa membendung tangisnya. Dan...butiran bening itupun mengalir lembut diatas pipi putihnya. Aldy yang tak tega melihat kesedihan Fiza, dengan segera meraih kepala Fiza dan menyenderkannya tepat diatas bahunya.

Tak lama kemudian Aldy meninggalkan Fiza sendiri. Aldy segera menuju ke beberapa temannya yang sudah datang untuk berkumpul dan membahas undangan tersebut. Beberapa menit kemudian Aldy datang menghampiri Fiza lagi dan berkata;

  "Cyg...keluar yuk, gabung sama teman-teman kita. Karena dari tadi mereka tanya terus, Cyg dimana", bujuk Aldy.

Dengan perasaan yang masih haru biru, Fiza segera menutup layar PCnya dan keluar mengikuti langkah Aldy. Ternyata mereka semua sudah berkumpul. Musyawarah pun dimulai. Masing-masing orang memberi masukan dan saran. Tapi, lagi-lagi Fiza ingin menangis. ia pun langsung permisi menuju ke toilet dan menumpahkan isakkannya disana. Begitu keluar dari toilet, Fiza langsung berdiri disamping Aldy dan membisikkan sesuatu;
  
"De' ikut yach...!!! setelah de' fikir-fikir....de' egois kalau de' cuma mementingkan perasaan sendiri, de' mau ikut, karena gak mau biarkan cynk ngelewati itu semua sendiri disana".

Aldy tidak membalas sepatah katapun. Hanya dengan tersenyum haru, Fiza sudah mengerti maksudnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar