PART II
MASIH TERSENYUM TEGAR
Beberapa bulan setelah kembalinya Fariz ke Nias, aku dan dia sama sekali tidak pernah bertemu atau berkomunikasi langsung melalui Telphon atau Handphone. Hanya sesekali saja kami saling berkomentar melalui situs facebook kami. Dan itu pun masih bisa dihitung pakai jari berapa kali kami saling berkomentar di facebook. Namun aku selalu mendapat informasi dan perkembangan tentang dia melalui Bunga. Yaaahh.....Bunga selalu bercerita kepadaku tentang perkembangan Fariz. Bunga bercerita.....bahwa beberapa hari setelah Fariz kembali ke Nias, rasa sakit yang dirasakannya menghampirinya lagi. Bahkan semakin bertambah parah. Jangankan untuk berjalan.... berdiri dari tempat tidur saja susah dilakukannya. Kakinya sudah tidak kuat untuk menopang tubuhnya. Dan setiap kali dia ingin berdiri atau bangun dari tempat tidurnya, harus ada orang yang memapahnya. Menurut kabar berita dari keluarganya, nafsu makan Fariz berkurang. Sehingga menyebabkan badan Fariz semakin kurus serta lemah. Namun yang lebih memilukan lagi , saat aku tahu bahwa Fariz berjalan dengan bantuan sebuah tongkat.
Masih dalam cerita Bunga, melihat kondisi Fariz saat itu, seluruh keluarga sepakat untuk membawa Fariz kembali lagi berobat ke Medan serta tinggal di Medan untuk beberapa bulan sampai keadaanya benar-benar membaik. Dengan alasan bahwa pengobatan yang pertama kali mereka lakukan di Medan, telah membuahkan hasil, yaah...walaupun hanya sedikit, dan hanya sekedar meringankan rasa sakitnya. Akan tetapi mereka ingin mencobanya kembali dengan harapan yang sama, semoga ada keajaiban.
Walaupun aku sudah tau kalau Fariz akan datang lagi ke Medan, namun aku belum tau...tepatnya kapan dia akan sampai di Medan.Dan apakah dia masih sama seperti pertama kali berobat ke Medan, datang dengan senyuman tegar di wajahnya??? ataukah....???? aaaahhh.....entah kenapa pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul dikepalaku.
Awal Juli 2010, tepatnya sebulan sebelum puasa Ramadhan....Fariz tiba di Medan. Dan langsung datang kekosan Bunga, alias kos-kosan aku juga. Sore harinya aku bertemu dengan Fariz. Ini adalah pertemuan kami yang kedua. Dia tampak begitu lelah karena perjalanan yang jauh. Namun senyum ketegaran itu masih tampak jelas dimataku...sama seperti pertama kali dia datang kesini. Aku fikir dia diantar oleh salah satu keluarganya. Ternyata tidak!! Fariz datang dari Nias bersama salah seorang temannya yang kebetulan satu tujuan dengan dia. Tentu saja aku langsung bertanya kepadanya, "kenapa tidak diantar?", dengan suara halus dan tersenyum dia menjawab: "aku gak mau merepotkan siapapun dan membuat cemas siapapun, karena aku merasa masih sanggup untuk pergi sendiri, karena kondisi badanku sudah sedikit enakan". Setelah mendengar jawabannya, aku hanya bisa tersenyum miris bercampur takjub ke arahnya.
Sehabis sholat magrib, aku bertandang ke kamar Bunga. Maklumlah....namanya juga anak kos, gak heran lagi kalau pas gak ada kerjaan, yach kerjanya bertandang kekamar sebelah...hihihihi...
Bunga tidak sendirian. Dia bersama Fariz,abangnya. Akhirnya kami bertiga didalam kamar itu. Eeeiiiit...jangan berfikiran yang aneh dulu yach...disini aku mau jelasin sedikit., walaupun Fariz tinggal di kamar Bunga, bukan berarti mereka bobok bareng. Selama Fariz di Medan, Bunga tidur dikamarku, kebetulan temen satu kamarku sudah pulang kampung libur semesteran gitu. Kami saling bercerita, sesekali tertawa bersama, dan sesekali juga aku bertanya kepadanya tentang penyakitnya tersebut dan apa rencana yang akan mereka lakukan esok harinya. Bersamaan dengan rasa sakit yang dirasanya, panjang lebar Fariz bercerita, mulai dari usaha pengobatannya yang pertama sampai tujuannya hari ini dia datang ke Medan lagi. Setiap ceritanya tidak beda jauh dari yang telah ku dengar sebelumnya tentang dia. Terharu plus sedih aku mendengar dan membayangkannya. Tak terasa malam semakin larut, serta rasa ngantuk pun mulai menghinggapi mata kami. Perkumpulan pun dibubarkan. Tapi seketika aku benar-benar tercengang saat dia ingin bangun berdiri dari tempat tidur, dia sedikit menjerit pelan meminta Bunga untuk membantunya. Saat itu tampak dimataku sebenarnya wajah Fariz menahan expresi rasa sakitnya. Dan saat dia meraih tongkatnya, aku kembali miris melihatnya. Langsung saja ku alihkan pandanganku dan segera bergerak keluar dari kamar, agar Fariz tak melihat wajah ibaku terhadapnya. Karena aku tau dia pasti akan merasa malu dan berkecil hati.
Keesokan harinya, Bunga dan Fariz beraksi kembali. Dengan sejuta harapan dan asa didalam hati mereka, Bunga dan Fariz mendatangi salah satu rumah sakit yang ada di Medan. Dengan sabar mereka berdua menunggu dan menunggu sang Dokter agar segera tau penyakit apa yang sebenarnya hinggap dikakinya. karena sampai saat itu tidak ada satu kepastian pun yang didapat tentang penyakitnya tersebut.
Penantian yang selama berjam-jam tersebut tak sia-sia. Akhirnya mereka bertemu dengan sang Dokter. Sang Dokter bertanya keluhan Fariz dan segera memeriksanya. Mulai dari foto, ronsen, serta scanning Fariz lakukan. Dan hasilnya akan diberitahu beberapa jam setelah itu. Dengan wajah cemas kembali lagi mereka menunggu hasil tersebut. Setelah hasil diketahui, Dokter segera memanggil mereka. Lalu menerangkan hasil tersebut, dari hasl yang Fariz jalani sebelumnya, ternyata Fariz mengalami infeksi sendi dibagian lutut kakinya. Dan penyakitnya sudah dinyatakan termasuk parah. Karena dibagian kaki tersebut beberapa susunan sudah tidak normal ada yang sudah bergeser. Dan dokter menyarankan untuk datang kembali bertemu beliau besok harinya.
Tampaknya masih ada keraguan diwajah mereka tentang hasil yang disampaikan tadi. Dengan segera mereka memberi kabar ke keluarga mereka. Dari hasil pembicaraan, keluarga Fariz menyuruh mereka untuk mendatangani kerumah sakit yang lain. Untuk meyakinkan apakah sama hasilnya atau tidak. Esok paginya Bunga dan Fariz pergi kerumah sakit yang lain, dan hasil dari pemeriksaan hampir sama seperti sebelumnya. Bahkan dokter tersebut meminta mereka untuk datang kembali dan bertemu dengan beliau, karena akan dilakukan penyuntikan dibagian kakinya. Karena hasil semuanya hampir sama, mereka memutuskan untuk mengikuti saran dokter tersebut, yaitu melakukan penyuntikan dibagian kakinya. Penyuntikan itu pun terjadi dan kemudian dokter memberikan beberapa obat untuk diminum agar rasa sakitnya berkurang. Yang pastinya tak sedikit uang yang telah mereka keluarkan untuk pengobatan tersebut. Akan tetapi pihak keluarga selalu mensupport Fariz, tak perduli berapa banyak lagi uang yang akan mereka keluarkan. Karena yang terpenting adalah kesembuhan Fariz.
Sama seperti malam-malam sebelumnya, kami selalu berkumpul bertiga dikamar Bunga. Menghiburnya ,agar Fariz tidak merasa sedih, berkecil hati, dan putus asa karena penyakitnya. Kadang, sesekali kami duduk diteras rumah kos, dan sesekali kami melihat Fariz berjalan-jalan kecil dengan tongkatnya, agar kakinya tidak menjadi terlalu kaku. Karena, selain do'a hanya itulah yang bisa kuberikan pada Fariz. Dan berkali-kali aku selalu melihat senyum ketegaran diwajahnya. Yang mengisyaratkan bahwa dia ingin sekali sembuh. Dan bisa beraktivitas seperti semula sebelum dia sakit.
Waktu terus berjalan, semakin hari mereka semakin gigih berusaha. Dan perlahan rasa sakitnya berkurang lagi. Karena bantuan obat yang diberikan dokter tersebut. Tanpa terasa Fariz sudah dua minggu lebih di Medan. Namun sekali lagi dia harus pulang ke Nias dan meninggalkan kota Medan. Sebenarnya Fariz ingin menyelesaikan pengobatannya sampai beberapa bulan disini. Sampai dia benar-benar sembuh. Tapi kali ini alasan dia pulang juga karena hal yang penting untuk masa depannya. Tanpa aku sangka ternyata dia pernah mengikuti tes CPNS di Nias, dan tanpa ku sangka lagi ternyata dia telah dinyatakan lulus dan akan benar-benar menjadi PNS di Nias. Alasan kenapa Fariz harus pulang yakni SK PNS nya akan segera keluar,dan dia harus segera mengurusnya.
Untuk kesekian kalinya aku takjub melihatnya. Karena dia adalah salah satu orang yang gigih meraih masa depannya. Dan ternyata Allah benar-benar masih sayang sama Fariz. Karena, Allah masih memberikan kenikmatan dan kebahagiaan didalam perih yang hebat karena penyakitnya.
Akhirnya.... Fariz pun kembali lagi ke Nias. Dengan membawa kembali penyakit yang belum tuntas terobati.
Untukmu teman.... semoga kamu semakin tabah dan sabar dalam berusaha. Jangan pernah menyerah sebelum
mendapat hasil yang selalu kamu impikan.
To be continue to Part III

Tidak ada komentar:
Posting Komentar