Mengenai Saya

Foto saya
Imoet...imoet...imoet... If there is a will, there is a way

Jumat, 22 Oktober 2010

Semua Tentangmu "Teman"......

PART I
MELAWAN PERIH


     Sejak dua hari yang lalu, entah kenapa aku begitu tertarik untuk menuliskan kisah perjalanan seorang teman baruku dalam hari-harinya melawan perih penyakit yang mengunjunginya. Padahal ini bukan  pertama kalinya dia datang ke Medan untuk berobat karena penyakitnya. 

    Fariz (bukan nama sebenarnya), dia adalah sahabat baruku yang berasal dari Nias. Sudah setahun lebih mengidap penyakit persendian dibagian kakinya. Pertama kali aku mengenalnya,ketika dia datang ke Medan untuk berobat dan menginap dikos-kosan ku, karena kebetulan saja adiknya satu kos-kosan dengan ku. Aku dan adiknya Bunga (bukan nama sebenarnya) sudah hampir dua tahun hidup satu kos-kosan di Medan ini. Bunga adalah seorang mahasiswi jurusan Sastra Inggris disalah satu universitas swasta di Medan. Bunga lebih muda 2 tahun dari umurku. Kami bersahabat akrab, bahkan aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri (maklum lah aku gak punya adik perempuan....hehehehe). Dan yang pastinya...sebelum aku menuliskan setiap kalimat perkalimat tentang teman baru ku itu, aku terlebih dahulu meminta izin kepada Bunga, kerana aku begitu tertarik untuk menuliskan setiap pergerakan usaha yang mereka lakukan bahkan sampai saat ini.

    Masih teringat dibenakku....pertama kali aku mengetahui bahwasannya Fariz mengidap suatu penyakit dibagian kakinya yakni dari Bunga, adik kandungnya. Waktu itu Bunga bercerita padaku, kalau Fariz akan datang ke Medan dengan tujuan ingin berobat agar penyakitnya segera sembuh. Sebelum datang ke Medan, di Nias, Fariz sudah menjalani beberapa pengobatan baik secara medis ataupun non-medis. Dari satu dokter kedokter yang lain bahkan kebeberapa orang tua. Namun...hasilnya tetap tidak membaik, bahkan dari pemeriksaan yang telah dilakukan hasilnya berbeda-beda, tidak begitu jelas jenis penyakit apa yang sebenarnya dideritanya. Dan akhirnya orang tua Fariz memutuskan membawanya ke Medan untuk berobat lebih intensiv dan berharap ada pengurangan dari penyakitnya serta mendapat penjelasan pasti tentang penyakitnya tersebut. Setelah sampainya di Medan, Fariz dan ayahnya langsung menuju ke kos-kosan Bunga untuk beristirahat dan menginap beberapa malam (yang pastinya sudah mendapat izin dari ibu kos kami).

   Disitulah untuk pertama kalinya aku mengenalnya. Aku memandangnya lalu menyapanya dengan ramah, namun pandanganku langsung tertuju ke arah kakinya. Miris hatiku melihatnya, iba pandanganku terhadapnya karena dia berjalan pincang dengan menahan sakit kakinya.
Tapi....ketika ku lihat kembali raut wajahnya, ada yang berbeda darinya. Wajahnya sungguh tidak menggambarkan rasa perih sakitnya. Bahkan wajahnya selalu terlihat tersenyum dihadapan setiap orang yang dijumpainya. Dan dia masih bisa tertawa riang padahal aku dan semua orang tau, dia begitu sakit melawan perihnya. Dia telah membuatku berbisik dalam hatiku.... "Subhanallaah.... kamu tampak begitu tegar melawan perihmu".

   Sama halnya seperti di Nias, di Medan mereka juga berusaha sekuat tenaga untuk memberikan pengobatan yang terbaik bagi Fariz, agar dia segera terlepas dari sakit yang dideritanya. Dari hari kehari, mereka begitu terlihat sangat gigih berusaha, tanpa terlihat lelah dan putus asa. Beberapa hari kemudian, Fariz meninggalkan kos-kosan kami. Karena dia akan tinggal beberapa hari dirumah familinya sebelum dia kembali lagi ke Nias. Begitu juga dengan Bunga, dengan setia sang adik terus menemani fariz, dan selalu memberinya semangat agar Fariz tidak berputus asa dengan usahanya. Namun...walaupun aku tidak melihat dirinya lagi, berita dan perkembangan tentang Fariz selalu aku dapat dari adiknya, Bunga. Dan setelah beberapa minggu tinggal di Medan, Alhamdulillah, Fariz merasakan rasa sakitnya sudah sedikit berkurang walaupun belum begitu jelas hasil yang mereka dapat tentang penyakitnya tersebut. Karena Fariz sudah merasa kakinya sedikit membaik, dia memutuskan untuk segera kembali ke Nias. Dan akhirnya Fariz meninggalkan kota Medan.

   Begitu banyak pelajaran yang dapat ku petik dari perjalan Fariz, teman yang baru aku kenal. Bahwa kita sebagai manusia ciptaan-Nya, harus selalu ikhlas dari setiap pemberian Allah kepada kita, baik itu berupa kesenangan atau kesakitan. Jangan pernah menyerah dan putus asa untuk terus berusaha sebelum kita mengetahui hasil akhirnya. Kita harus selalu yakin Allah dan orang-orang yang berada disekitar kita selalu menyayangi kita sekalipun kita dalam keadaan tersulit. Bagiku.....ini sungguh pelajaran berharga bagiku. 
Teman baruku.... aku berdoa, semoga Allah selalu memberimu kesabaran dan segera disembuhkan rasa perih penyakitmu.


To be continue to part II...


2 komentar:

  1. Kadang kita sering berucap "mengapa ujian yg aku alami ini sungguh berat?"
    namun sesungguhnya ujian tersebut tidak terasa sangat berat apabila ada pembanding di antara kita. Artinya tidak hanya kita sendiri yg merasakannya.
    Bukan brarti kita berharap ada orang yang merasakan atau mengalami apa yg terjadi pada diri kita, tapi stidaknya ada yg peduli dengan keadaan kita.
    Dan itu bisa menjadi dorongan motivasi kita untuk kluar dari ujian tersebut.

    Abg sngt trharu dan sdih m'bc kisah si Fariz, dan abg jg bangga dngr dia msh slu trsenym k smua org. Trutama buat Ila yg bs m'jd tmn yg peduli dgn drita Fariz.

    BalasHapus
  2. Makasi yach bang... ^_^
    dan mohon doanya juga untuk dia..

    BalasHapus