Mengenai Saya

Foto saya
Imoet...imoet...imoet... If there is a will, there is a way

Minggu, 24 Oktober 2010

Semua Tentangmu "Teman"......

PART III
KENIKMATAN YANG MENYAKITKAN



    Kembalinya Fariz ke Nias, dengan kondisi kakinya yang teramat sakit dia menjalani seluruh kegiatan sehari-harinya, ditambah lagi dia sekarang sudah menjadi Pegawai Negeri Sipil. Setiap hari Fariz pergi kekantor berboncengan dengan seorang temannya. Kebetulan, teman Fariz tidak memiliki kendaraan sendiri, jadi dengan menggunakan kendaraan Fariz mereka berdua berangkat kerja bersama-sama. Dan begitu juga sore harinya ketika mereka selesai dari pekerjaannya dan pulang kerumah. Walaupun begitu....dia kelihatan begitu enjoy menjalaninya. 

   Namun lagi-lagi aku terkejut, mendengar berita memprihatinkan tentang Fariz. Penyakitnya kambuh lagi...dan bertambah parah. Sampai-sampai dia harus tidak masuk kerja untuk beberapa hari sampai dia merasa baikan lagi. Setelah Fariz merasa sedikit baikan dia mulai melanjutkan aktivitasnya lagi. Bekerja seperti biasa.
Suatu hari musibah melandanya. Fariz dan temannya mengalami kecelakaan dijalan saat menuju kantor mereka. Kepala dan kaki Fariz terbentur. Bagian kepala tidak begitu parah karena terhalang helm, namun bagian kakinya semakin parah sakitnya karena benturan tersebut. Karena kecelakaan itu, Fariz jatuh sakit, badannya panas dan sering muntah-muntah. Melihat kondisi Fariz semakin memburuk keluarga Fariz berniat membawa Fariz ke Medan lagi untuk mencoba beberapa pengobatan lagi. Dengan harapan yang sama pula.
Setelah kondisi Fariz sedikit baikan, dan badannya sudah terlihat segar, beberapa hari berikutnya dia pun mempersiapkan diri untuk pergi lagi ke Medan. Dan sebelumnya menghubungi Bunga terlebih dahulu agar menjemputnya di airport.

   Kali ini pun Fariz datang sendirian ke Medan, tanpa ada yang menemani. Untuk kepergiannya kali ini dia naik pesawat. itulah alasannya kenapa Fariz terlebih dahulu menghubungi Bunga. Fariz tiba di kos sekitar pukul 10:00 gitu. Ketika aku hendak pergi dari kos, aku berpapasan dengannya lalu aku menyapa serta bersalaman dengannya. Dan ini adalah pertemuan kami yang ketiga kalinya. Dipertemuan yang ketiga ini, sungguh beda raut wajahnya. Kali ini wajah dan senyumnya kelihatan tidak setegar yang pertama dan kedua. Selain wajah lelah, aku melihat ada kekehawatiran yang besar dan sedikit keputus asaan didirinya. Kemudian aku pun berlalu dan pergi meninggalkan kos. Karena mereka juga ingin beristirahat dan akan segera memulai kembali pergerakan-pergerakan usaha mereka.

   Sama seperti waktu lalu....setiap malamnya kami selalu kumpul bertiga dan masing-masing bercerita. Tapi kedatangannya kali ini memang benar-benar berbeda. Fariz terlihat pendiam dan tidak banyak bicara. Aku dan Bunga berusaha keras untuk menghiburnya dengan tingkah-tingkah kami yang sedikit lucu. Sesekali dia ikut tertawa bersama kami, meskipun tak seperti yang dulu. 
Aku sempat membaca status yang dia tuliskan di facebook miliknya, yaitu berbunyi : " Kenikmatan Yang Menyakitkan". Waktu itu aku tak begitu mengerti maksudnya. Tapi setelah Bunga menjelaskannya padaku, aku mengerti kenapa dia menulis seperti itu. Menurut Bunga, Fariz menuliskan kata-kata itu, karena dia merasa tidak ada hal lain yang dapat dia ungkapkan selain menikmati rasa sakitnya. Yang mau tidak mau harus terus dia rasakan setiap harinya.

   Pagi harinya... badan Fariz menjadi panas dan beberapa kali dia sempat muntah-muntah. Tidak selera makan, dan terlihat lemas. Bunga, begitu tampak panik dan cemas. Dan kejadian itu berlangsung sampai mala harinya. Pada saat yang sama, keluarga Fariz yang di Nias menghubungi Bunga. Banyak pertanyaan yang mereka ajukan ke Bunga khususnya tentang perkembangan Fariz. Akhirnya mereka tau kondisi Fariz saat itu, semua orang disana semakin mencemaskannya terutama sang Ibu. Singkat cerita, ayah mereka memutuskan untuk segera datang ke Medan guna mendampingi Fariz berobat. Dengan menaiki pesawat, pagi harinya ayah mereka telah sampai di Medan. Dan langsung menemui Fariz yang berada dikamarnya. Siang harinya.... Bunga dan ayahnya pergi kesalah satu rumah sakit dengan membawa hasil ronsen yang telah dilakukan Fariz sebelum dia sakit. Dengan tujuan mendapat penjelasan perkembangan tentang kaki fariz, karena ini bukanlah ronsen atau scannig yang pertama kali dilakukan Fariz. Malam harinya.... setelah keadaan sedikit tenang....aku bertanya kepada Bunga tentang hasil yang didapat harini. Bunga menjelaskan, bahwa dokter menyarankan Fariz untuk segera melakukan operasi. Berkali-kali miris aku mendengarkannya. Bunga melanjutkan ceritanya, bahwa sang ibu tidak mau Fariz di operasi, karena beliau takut kalau kakinya akan di amputasi juga. Dan cerita terakhir yang ku dapat, pihak keluarga belum mau melakukan operasi terhadap Fariz, bahkan semakin berusaha mencari jalan keluar dan pengobatan lainnya selain operasi.

   Inilah alasanku kenapa aku begitu tertarik untuk menuliskan kisah Fariz ke dalam blog ku ini. Karena aku begitu takjub melihat Fariz dan keluarganya untuk terus berusaha demi kesembuhan Fariz. Yang aku lebih takjub lagi, baik Bunga atau ayahnya sama sekali tidak pernah menunnjukkan wajah sedih, capek atau mengeluh karena terlalu lelah mendampingi Fariz. Bahkan sebisa mungkin mereka menyembunyikan hal itu agar Fariz tidak berfikir yang aneh-aneh tenyang penyakitnya. 


To be contiue................................................

Sabtu, 23 Oktober 2010

Semua Tentangmu "Teman"

PART II
MASIH TERSENYUM TEGAR


    Beberapa bulan setelah kembalinya Fariz ke Nias, aku dan dia sama sekali tidak pernah bertemu atau berkomunikasi langsung melalui Telphon atau Handphone. Hanya sesekali saja kami saling berkomentar melalui situs facebook kami. Dan itu pun masih bisa dihitung pakai jari berapa kali kami saling berkomentar di facebook. Namun aku selalu mendapat informasi dan perkembangan tentang dia melalui Bunga. Yaaahh.....Bunga selalu bercerita kepadaku tentang perkembangan Fariz. Bunga bercerita.....bahwa beberapa hari setelah Fariz kembali ke Nias, rasa sakit yang dirasakannya menghampirinya lagi. Bahkan semakin bertambah parah. Jangankan untuk berjalan.... berdiri dari tempat tidur saja susah dilakukannya. Kakinya sudah tidak kuat untuk menopang tubuhnya. Dan setiap kali dia ingin berdiri atau bangun dari tempat tidurnya, harus ada orang yang memapahnya. Menurut kabar berita dari keluarganya, nafsu makan Fariz berkurang. Sehingga menyebabkan badan Fariz semakin kurus serta lemah. Namun yang lebih memilukan lagi , saat aku tahu bahwa Fariz berjalan dengan bantuan sebuah tongkat.

   Masih dalam cerita Bunga, melihat kondisi Fariz saat itu, seluruh keluarga sepakat untuk membawa Fariz kembali lagi berobat ke Medan serta tinggal di Medan untuk beberapa bulan sampai keadaanya benar-benar membaik. Dengan alasan bahwa pengobatan yang pertama kali mereka lakukan di Medan, telah membuahkan hasil, yaah...walaupun hanya sedikit, dan hanya sekedar meringankan rasa sakitnya. Akan tetapi mereka ingin mencobanya kembali dengan harapan yang sama, semoga ada keajaiban.
Walaupun aku sudah tau kalau Fariz akan datang lagi ke Medan, namun aku belum tau...tepatnya kapan dia akan sampai di Medan.Dan apakah dia masih sama seperti pertama kali berobat ke Medan, datang dengan senyuman tegar di wajahnya??? ataukah....???? aaaahhh.....entah kenapa pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul dikepalaku.

   Awal Juli 2010, tepatnya sebulan sebelum puasa Ramadhan....Fariz tiba di Medan. Dan langsung datang kekosan Bunga, alias kos-kosan aku juga. Sore harinya aku bertemu dengan Fariz. Ini adalah pertemuan kami yang kedua. Dia tampak begitu  lelah karena perjalanan yang jauh. Namun senyum ketegaran itu masih tampak jelas dimataku...sama seperti pertama kali dia datang kesini. Aku fikir dia diantar oleh salah satu keluarganya. Ternyata tidak!! Fariz datang dari Nias bersama salah seorang temannya yang kebetulan satu tujuan dengan dia. Tentu saja aku langsung bertanya kepadanya, "kenapa tidak diantar?", dengan suara halus dan tersenyum dia menjawab: "aku gak mau merepotkan siapapun dan membuat cemas siapapun, karena aku merasa masih sanggup untuk pergi sendiri, karena kondisi badanku sudah sedikit enakan". Setelah mendengar jawabannya, aku hanya bisa tersenyum miris bercampur takjub ke arahnya.

   Sehabis sholat magrib, aku bertandang ke kamar Bunga. Maklumlah....namanya juga anak kos, gak heran lagi kalau pas gak ada kerjaan, yach kerjanya bertandang kekamar sebelah...hihihihi...
Bunga tidak sendirian. Dia bersama Fariz,abangnya. Akhirnya kami bertiga didalam kamar itu. Eeeiiiit...jangan berfikiran yang aneh dulu yach...disini aku mau jelasin sedikit., walaupun Fariz tinggal di kamar Bunga, bukan berarti mereka bobok bareng. Selama Fariz di Medan, Bunga tidur dikamarku, kebetulan temen satu kamarku sudah pulang kampung libur semesteran gitu. Kami saling bercerita, sesekali tertawa bersama, dan sesekali juga aku bertanya kepadanya tentang penyakitnya tersebut dan apa rencana yang akan mereka lakukan esok harinya. Bersamaan dengan rasa sakit yang dirasanya, panjang lebar Fariz bercerita, mulai dari usaha pengobatannya yang pertama sampai tujuannya hari ini dia datang ke Medan lagi. Setiap ceritanya tidak beda jauh dari yang telah ku dengar sebelumnya tentang dia. Terharu plus sedih aku mendengar dan membayangkannya. Tak terasa malam semakin larut, serta rasa ngantuk pun mulai menghinggapi mata kami. Perkumpulan pun dibubarkan. Tapi seketika aku benar-benar tercengang saat dia ingin bangun berdiri dari tempat tidur, dia sedikit menjerit pelan meminta Bunga untuk membantunya. Saat itu tampak dimataku sebenarnya wajah Fariz menahan expresi rasa sakitnya. Dan saat dia meraih tongkatnya, aku kembali miris melihatnya. Langsung saja ku alihkan pandanganku dan segera bergerak keluar dari kamar, agar Fariz tak melihat wajah ibaku terhadapnya. Karena aku tau dia pasti akan merasa malu dan berkecil hati.
    Keesokan harinya, Bunga dan Fariz beraksi kembali. Dengan sejuta harapan dan asa didalam hati mereka, Bunga dan Fariz mendatangi salah satu rumah sakit yang ada di Medan. Dengan sabar mereka berdua menunggu dan menunggu sang Dokter agar segera tau penyakit apa yang sebenarnya hinggap dikakinya. karena sampai saat itu tidak ada satu kepastian pun yang didapat tentang penyakitnya tersebut. 
Penantian yang selama berjam-jam tersebut tak sia-sia. Akhirnya mereka bertemu dengan sang Dokter. Sang Dokter bertanya keluhan Fariz dan segera memeriksanya. Mulai dari foto, ronsen, serta scanning Fariz lakukan. Dan hasilnya akan diberitahu beberapa jam setelah itu. Dengan wajah cemas kembali lagi mereka menunggu hasil tersebut. Setelah hasil diketahui, Dokter segera memanggil mereka. Lalu menerangkan hasil tersebut, dari hasl yang Fariz jalani sebelumnya, ternyata Fariz mengalami infeksi sendi dibagian lutut kakinya. Dan penyakitnya sudah dinyatakan termasuk parah. Karena dibagian kaki tersebut beberapa susunan sudah tidak normal ada yang sudah bergeser. Dan dokter menyarankan untuk datang kembali bertemu beliau besok harinya. 

    Tampaknya masih ada keraguan diwajah mereka tentang hasil yang disampaikan tadi. Dengan segera mereka memberi kabar ke keluarga mereka. Dari hasil pembicaraan, keluarga Fariz menyuruh mereka untuk mendatangani kerumah sakit yang lain. Untuk meyakinkan apakah sama hasilnya atau tidak. Esok paginya Bunga dan Fariz pergi kerumah sakit yang lain, dan hasil dari pemeriksaan hampir sama seperti sebelumnya. Bahkan dokter  tersebut meminta mereka untuk datang kembali dan bertemu dengan beliau, karena akan dilakukan penyuntikan dibagian kakinya. Karena hasil semuanya hampir sama, mereka memutuskan untuk mengikuti saran dokter tersebut, yaitu melakukan penyuntikan dibagian kakinya. Penyuntikan itu pun terjadi dan kemudian dokter memberikan beberapa obat untuk diminum agar rasa sakitnya berkurang. Yang pastinya tak sedikit uang yang telah mereka keluarkan untuk pengobatan tersebut. Akan tetapi pihak keluarga selalu mensupport Fariz, tak perduli berapa banyak lagi uang yang akan mereka keluarkan. Karena yang terpenting adalah kesembuhan Fariz.

    Sama seperti malam-malam sebelumnya, kami selalu berkumpul bertiga dikamar Bunga. Menghiburnya ,agar Fariz tidak merasa sedih, berkecil hati, dan putus asa karena penyakitnya. Kadang, sesekali kami duduk diteras rumah kos, dan sesekali kami melihat Fariz berjalan-jalan kecil dengan tongkatnya, agar kakinya tidak menjadi terlalu kaku. Karena, selain do'a hanya itulah yang bisa kuberikan pada Fariz. Dan berkali-kali aku selalu melihat senyum ketegaran diwajahnya. Yang mengisyaratkan bahwa dia ingin sekali sembuh. Dan bisa beraktivitas seperti semula sebelum dia sakit.

Waktu terus berjalan, semakin hari mereka semakin gigih berusaha. Dan perlahan rasa sakitnya berkurang lagi. Karena bantuan obat yang diberikan dokter tersebut. Tanpa terasa Fariz sudah dua minggu lebih di Medan. Namun sekali lagi dia harus pulang ke Nias dan meninggalkan kota Medan. Sebenarnya Fariz ingin menyelesaikan pengobatannya sampai beberapa bulan disini. Sampai dia benar-benar sembuh. Tapi kali ini alasan dia pulang juga karena hal yang penting untuk masa depannya. Tanpa aku sangka ternyata dia pernah mengikuti tes CPNS di Nias, dan tanpa ku sangka lagi ternyata dia telah dinyatakan lulus dan akan benar-benar menjadi PNS di Nias. Alasan kenapa Fariz harus pulang yakni SK PNS nya akan segera keluar,dan dia harus segera mengurusnya.
Untuk kesekian kalinya aku takjub melihatnya. Karena dia adalah salah satu orang yang gigih meraih masa depannya. Dan ternyata Allah benar-benar masih sayang sama Fariz. Karena, Allah masih memberikan kenikmatan dan kebahagiaan didalam perih yang hebat karena penyakitnya. 
Akhirnya.... Fariz pun kembali lagi ke Nias. Dengan membawa kembali penyakit yang belum tuntas terobati. 

Untukmu teman.... semoga kamu semakin tabah dan sabar dalam berusaha. Jangan pernah menyerah sebelum
mendapat hasil yang selalu kamu impikan.

To be continue to Part III

 

Jumat, 22 Oktober 2010

Semua Tentangmu "Teman"......

PART I
MELAWAN PERIH


     Sejak dua hari yang lalu, entah kenapa aku begitu tertarik untuk menuliskan kisah perjalanan seorang teman baruku dalam hari-harinya melawan perih penyakit yang mengunjunginya. Padahal ini bukan  pertama kalinya dia datang ke Medan untuk berobat karena penyakitnya. 

    Fariz (bukan nama sebenarnya), dia adalah sahabat baruku yang berasal dari Nias. Sudah setahun lebih mengidap penyakit persendian dibagian kakinya. Pertama kali aku mengenalnya,ketika dia datang ke Medan untuk berobat dan menginap dikos-kosan ku, karena kebetulan saja adiknya satu kos-kosan dengan ku. Aku dan adiknya Bunga (bukan nama sebenarnya) sudah hampir dua tahun hidup satu kos-kosan di Medan ini. Bunga adalah seorang mahasiswi jurusan Sastra Inggris disalah satu universitas swasta di Medan. Bunga lebih muda 2 tahun dari umurku. Kami bersahabat akrab, bahkan aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri (maklum lah aku gak punya adik perempuan....hehehehe). Dan yang pastinya...sebelum aku menuliskan setiap kalimat perkalimat tentang teman baru ku itu, aku terlebih dahulu meminta izin kepada Bunga, kerana aku begitu tertarik untuk menuliskan setiap pergerakan usaha yang mereka lakukan bahkan sampai saat ini.

    Masih teringat dibenakku....pertama kali aku mengetahui bahwasannya Fariz mengidap suatu penyakit dibagian kakinya yakni dari Bunga, adik kandungnya. Waktu itu Bunga bercerita padaku, kalau Fariz akan datang ke Medan dengan tujuan ingin berobat agar penyakitnya segera sembuh. Sebelum datang ke Medan, di Nias, Fariz sudah menjalani beberapa pengobatan baik secara medis ataupun non-medis. Dari satu dokter kedokter yang lain bahkan kebeberapa orang tua. Namun...hasilnya tetap tidak membaik, bahkan dari pemeriksaan yang telah dilakukan hasilnya berbeda-beda, tidak begitu jelas jenis penyakit apa yang sebenarnya dideritanya. Dan akhirnya orang tua Fariz memutuskan membawanya ke Medan untuk berobat lebih intensiv dan berharap ada pengurangan dari penyakitnya serta mendapat penjelasan pasti tentang penyakitnya tersebut. Setelah sampainya di Medan, Fariz dan ayahnya langsung menuju ke kos-kosan Bunga untuk beristirahat dan menginap beberapa malam (yang pastinya sudah mendapat izin dari ibu kos kami).

   Disitulah untuk pertama kalinya aku mengenalnya. Aku memandangnya lalu menyapanya dengan ramah, namun pandanganku langsung tertuju ke arah kakinya. Miris hatiku melihatnya, iba pandanganku terhadapnya karena dia berjalan pincang dengan menahan sakit kakinya.
Tapi....ketika ku lihat kembali raut wajahnya, ada yang berbeda darinya. Wajahnya sungguh tidak menggambarkan rasa perih sakitnya. Bahkan wajahnya selalu terlihat tersenyum dihadapan setiap orang yang dijumpainya. Dan dia masih bisa tertawa riang padahal aku dan semua orang tau, dia begitu sakit melawan perihnya. Dia telah membuatku berbisik dalam hatiku.... "Subhanallaah.... kamu tampak begitu tegar melawan perihmu".

   Sama halnya seperti di Nias, di Medan mereka juga berusaha sekuat tenaga untuk memberikan pengobatan yang terbaik bagi Fariz, agar dia segera terlepas dari sakit yang dideritanya. Dari hari kehari, mereka begitu terlihat sangat gigih berusaha, tanpa terlihat lelah dan putus asa. Beberapa hari kemudian, Fariz meninggalkan kos-kosan kami. Karena dia akan tinggal beberapa hari dirumah familinya sebelum dia kembali lagi ke Nias. Begitu juga dengan Bunga, dengan setia sang adik terus menemani fariz, dan selalu memberinya semangat agar Fariz tidak berputus asa dengan usahanya. Namun...walaupun aku tidak melihat dirinya lagi, berita dan perkembangan tentang Fariz selalu aku dapat dari adiknya, Bunga. Dan setelah beberapa minggu tinggal di Medan, Alhamdulillah, Fariz merasakan rasa sakitnya sudah sedikit berkurang walaupun belum begitu jelas hasil yang mereka dapat tentang penyakitnya tersebut. Karena Fariz sudah merasa kakinya sedikit membaik, dia memutuskan untuk segera kembali ke Nias. Dan akhirnya Fariz meninggalkan kota Medan.

   Begitu banyak pelajaran yang dapat ku petik dari perjalan Fariz, teman yang baru aku kenal. Bahwa kita sebagai manusia ciptaan-Nya, harus selalu ikhlas dari setiap pemberian Allah kepada kita, baik itu berupa kesenangan atau kesakitan. Jangan pernah menyerah dan putus asa untuk terus berusaha sebelum kita mengetahui hasil akhirnya. Kita harus selalu yakin Allah dan orang-orang yang berada disekitar kita selalu menyayangi kita sekalipun kita dalam keadaan tersulit. Bagiku.....ini sungguh pelajaran berharga bagiku. 
Teman baruku.... aku berdoa, semoga Allah selalu memberimu kesabaran dan segera disembuhkan rasa perih penyakitmu.


To be continue to part II...