PART III
KENIKMATAN YANG MENYAKITKAN
Kembalinya Fariz ke Nias, dengan kondisi kakinya yang teramat sakit dia menjalani seluruh kegiatan sehari-harinya, ditambah lagi dia sekarang sudah menjadi Pegawai Negeri Sipil. Setiap hari Fariz pergi kekantor berboncengan dengan seorang temannya. Kebetulan, teman Fariz tidak memiliki kendaraan sendiri, jadi dengan menggunakan kendaraan Fariz mereka berdua berangkat kerja bersama-sama. Dan begitu juga sore harinya ketika mereka selesai dari pekerjaannya dan pulang kerumah. Walaupun begitu....dia kelihatan begitu enjoy menjalaninya.
Namun lagi-lagi aku terkejut, mendengar berita memprihatinkan tentang Fariz. Penyakitnya kambuh lagi...dan bertambah parah. Sampai-sampai dia harus tidak masuk kerja untuk beberapa hari sampai dia merasa baikan lagi. Setelah Fariz merasa sedikit baikan dia mulai melanjutkan aktivitasnya lagi. Bekerja seperti biasa.
Suatu hari musibah melandanya. Fariz dan temannya mengalami kecelakaan dijalan saat menuju kantor mereka. Kepala dan kaki Fariz terbentur. Bagian kepala tidak begitu parah karena terhalang helm, namun bagian kakinya semakin parah sakitnya karena benturan tersebut. Karena kecelakaan itu, Fariz jatuh sakit, badannya panas dan sering muntah-muntah. Melihat kondisi Fariz semakin memburuk keluarga Fariz berniat membawa Fariz ke Medan lagi untuk mencoba beberapa pengobatan lagi. Dengan harapan yang sama pula.
Setelah kondisi Fariz sedikit baikan, dan badannya sudah terlihat segar, beberapa hari berikutnya dia pun mempersiapkan diri untuk pergi lagi ke Medan. Dan sebelumnya menghubungi Bunga terlebih dahulu agar menjemputnya di airport.
Kali ini pun Fariz datang sendirian ke Medan, tanpa ada yang menemani. Untuk kepergiannya kali ini dia naik pesawat. itulah alasannya kenapa Fariz terlebih dahulu menghubungi Bunga. Fariz tiba di kos sekitar pukul 10:00 gitu. Ketika aku hendak pergi dari kos, aku berpapasan dengannya lalu aku menyapa serta bersalaman dengannya. Dan ini adalah pertemuan kami yang ketiga kalinya. Dipertemuan yang ketiga ini, sungguh beda raut wajahnya. Kali ini wajah dan senyumnya kelihatan tidak setegar yang pertama dan kedua. Selain wajah lelah, aku melihat ada kekehawatiran yang besar dan sedikit keputus asaan didirinya. Kemudian aku pun berlalu dan pergi meninggalkan kos. Karena mereka juga ingin beristirahat dan akan segera memulai kembali pergerakan-pergerakan usaha mereka.
Sama seperti waktu lalu....setiap malamnya kami selalu kumpul bertiga dan masing-masing bercerita. Tapi kedatangannya kali ini memang benar-benar berbeda. Fariz terlihat pendiam dan tidak banyak bicara. Aku dan Bunga berusaha keras untuk menghiburnya dengan tingkah-tingkah kami yang sedikit lucu. Sesekali dia ikut tertawa bersama kami, meskipun tak seperti yang dulu.
Aku sempat membaca status yang dia tuliskan di facebook miliknya, yaitu berbunyi : " Kenikmatan Yang Menyakitkan". Waktu itu aku tak begitu mengerti maksudnya. Tapi setelah Bunga menjelaskannya padaku, aku mengerti kenapa dia menulis seperti itu. Menurut Bunga, Fariz menuliskan kata-kata itu, karena dia merasa tidak ada hal lain yang dapat dia ungkapkan selain menikmati rasa sakitnya. Yang mau tidak mau harus terus dia rasakan setiap harinya.
Pagi harinya... badan Fariz menjadi panas dan beberapa kali dia sempat muntah-muntah. Tidak selera makan, dan terlihat lemas. Bunga, begitu tampak panik dan cemas. Dan kejadian itu berlangsung sampai mala harinya. Pada saat yang sama, keluarga Fariz yang di Nias menghubungi Bunga. Banyak pertanyaan yang mereka ajukan ke Bunga khususnya tentang perkembangan Fariz. Akhirnya mereka tau kondisi Fariz saat itu, semua orang disana semakin mencemaskannya terutama sang Ibu. Singkat cerita, ayah mereka memutuskan untuk segera datang ke Medan guna mendampingi Fariz berobat. Dengan menaiki pesawat, pagi harinya ayah mereka telah sampai di Medan. Dan langsung menemui Fariz yang berada dikamarnya. Siang harinya.... Bunga dan ayahnya pergi kesalah satu rumah sakit dengan membawa hasil ronsen yang telah dilakukan Fariz sebelum dia sakit. Dengan tujuan mendapat penjelasan perkembangan tentang kaki fariz, karena ini bukanlah ronsen atau scannig yang pertama kali dilakukan Fariz. Malam harinya.... setelah keadaan sedikit tenang....aku bertanya kepada Bunga tentang hasil yang didapat harini. Bunga menjelaskan, bahwa dokter menyarankan Fariz untuk segera melakukan operasi. Berkali-kali miris aku mendengarkannya. Bunga melanjutkan ceritanya, bahwa sang ibu tidak mau Fariz di operasi, karena beliau takut kalau kakinya akan di amputasi juga. Dan cerita terakhir yang ku dapat, pihak keluarga belum mau melakukan operasi terhadap Fariz, bahkan semakin berusaha mencari jalan keluar dan pengobatan lainnya selain operasi.
Inilah alasanku kenapa aku begitu tertarik untuk menuliskan kisah Fariz ke dalam blog ku ini. Karena aku begitu takjub melihat Fariz dan keluarganya untuk terus berusaha demi kesembuhan Fariz. Yang aku lebih takjub lagi, baik Bunga atau ayahnya sama sekali tidak pernah menunnjukkan wajah sedih, capek atau mengeluh karena terlalu lelah mendampingi Fariz. Bahkan sebisa mungkin mereka menyembunyikan hal itu agar Fariz tidak berfikir yang aneh-aneh tenyang penyakitnya.
To be contiue................................................

