Wanita separuh baya itu berjalan sambil membawa beberapa bungkusan belanjanya. Dengan wajah cemas...ditengah terik matahari, dia berjalan dan terus berjalan menusuri jalanan pasar yang sedikit agak becek karena habis diguyur hujan tadi malam. Berkeliling dia mencari yang dia cari...dan tepat diujung jalan pasar tersebut dia menemukannya. Ya...dia menemukan seorang anak perempuan yang umurnya kira-kira masih 10-11 tahun. Anak perempuan tersebut adalah putrinya, Calysta, biasa dia memanggilnya. Dengan senyuman manis dan nada yang lembut putrinya berkata, "maaf ibu, Calysta telah membuat ibu resah". Sang ibu pun tersenyum dengan tatapan penuh kasih sayang lalu berkata,"tidak apa-apa putri kecilku, tapi lain kali kamu harus beritahu ibu setiap kali kamu ingin meninggalkan ibu, agar ibu tidak cemas mencarimu". Putri kecilnya pun menjawab,"iya ibu... lain kali Calysta akan beritahu ibu jika Calysta ingin pergi atau meninggalkan ibu". Lalu keduanya segera meninggalkan pasar tersebut dan segera pulang kerumah. Sepanjang perjalanan menuju kerumah si putri kecil berbicara dalam hatinya sendiri, "sekali lagi maaf ibu, aku tahu...dalam diammu sebenarnya engkau sangat mencemaskanku tadi, dan aku juga tahu dalam diammu...bahwa engkau sangat menyayangiku, karena hanya diriku lah yang engkau miliki saat ini, dan aku juga tahu dalam diammu...engkau tidak ingin kehilanganku seperti engkau kehilangan putri pertamamu dan juga ayah".
Calysta adalah anak yang cerdas, rajin dan juga memiliki budi pekerti yang tinggi. Dia selalu menjadi juara kelas disekolahnya. Tidak heran jika hampir semua orang yang mengenalnya selalu menyayanginya. Dia lahir dari keluarga yang sederhana, sebenarnya dia adalah putri kedua dan dia sebelumnya memiliki seorang saudara perempuan. Namun sayang, kehidupan tak berpihak pada saudaranya, dia telah meninggal bersama ayahnya karena sebuah kecelakaa mobil saat mereka hendak pergi keluar kota. Semua itu terlalu pahit untuk diingat.
Waktu terus berputar...tanpa terasa si putri kecil telah tumbuh menjadi seorang gadis dewasa nan cantik. Dengan rambut hitamnya yang panjang dan dengan senyumannya yang manis, semua orang pasti terpukau jika melihatnya. Calysta telah beranjak dewasa, dan sekarang dia telah menjadi mahasiswi kedokteran disalah satu universitas negeri dikotanya. Dan tidak lama lagi dia akan menjadi seorang dokter. Itu semua diraihnya karena kerajinannya, kecerdasannya serta kesungguhannya sehingga dia mendapatkan beasiswa. Sang ibu sangat merasa bangga terhadap putrinya, bahkan dia selalu mendukung setiap yang putri kecilnya cita-citakan. Akhirnya Calysta telah menyelesaikan kuliahnya dan telah menjadi seorang dokter yang bekerja disalah satu rumah sakit dikota tempat tinggalnya.
Suatu hari... Calysta menemukan ibunya sedang duduk melamun dihalaman belakang rumahnya. Entah apa yang sedang difikirkan sang ibu saat itu. Dengan langkah pelan Calysta menghampiri ibunya, duduk tepat disamping sang ibu dan bertanya : "Ibu kenapa?? Apa yang sedang ibu fikirkan?? tanya putrinya dengan nada halus. Seketika sang ibu tersentak dari lamunannya, lalu menjawab putrinya, "aahh...ibu tidak apa-apa kok sayang". Calysta semakin bertambah penasaran, karena dia tahu pasti ibu sedang menyembunyikan sesuatu. Dengan nada manja Calysta meminta ibunya untuk bercerita. Sang ibu menoleh kearahnya, menatap dalam putri satu-satunya, lalu tersenyum yang kemudian dia menarik nafas dalam-dalam dan mulai bercerita.
Putri kecilku.... katanya sambil mengusap kepala Calysta dengan sayang, tak terasa kamu kini sudah bertambah dewasa, dan kamu sangat berhak untuk memilih jalan kehidupanmu nak. Saatnya kamu memilih siapa pasangan hidupmu kelak, karena ibu tidak mungkin selamanya bisa bersamamu dan terus menjagamu. Ibu tadi sedang membayangkan alangkah cantiknya putri ibu saat mengenakan pakaian pengantin putih, dihiasi senyum kebahagiaan yang terpancar dari wajahmu nak. Putriku....lanjutnya, sudah cukup pengabdianmu untuk ibu nak, dan ibu sudah cukup merasa senang karena kamu dengan ikhlas sudah merawat ibu sampai setua ini. Dan sekarang saatnya kamu yang harus membahagiakan dirimu nak. Ibu sudah ikhlas untuk melepasmu tanpa engkau minta dan beritahu ibu.
Calysta memeluk ibunya erat, seakan tak ingin melepas pelukan tersebut. Lalu Calysta berbisik ditelinga sang ibu : "Ibu....terimakasih untuk semua yang telah engkau berikan selama ini, engkau adalah wanita terhebat dalam hidupku, ibu... Calysta sangat mencintai dan menyayangimu".
Suasana menjadi hening dan penuh haru. Dalam pelukan sang ibu, diam-diam Calysta menetekan air airmata. Lagi dan lagi...dia berbicara dalam hatinya sendiri, "Ibu, aku sangat tahu dalam diammu... engkau sangat menyayangiku, aku tahu dalam diammu... engkau sangat mengingikanku bahagia, aku tahu dalam diammu engkau selalu berdoa yang terbaik untukku, aku tahu dalam diammu...sebenarnya engkau belum bisa melepasku walau engkau berkata ikhlas, aku juga tahu dalam diammu... engkau ingin aku selalu merawatmu sampai Tuhan memanggilmu, dan aku sangat tahu dalam diammu...saat ini engkau takut, sedih, jika suatu saat nanti aku akan hidup bersama orang lain dan meninggalkanmu sendiri".
Dan kini dalam diamku... aku akan selalu bangga padamu, karena engkau wanita terhebat dalam hidupku.
--- Utjan Owner---
Tidak semua hal dapat di utarakan langsung oleh ibu kita, terkadang mereka hanya diam melihat kita, anak2nya. Namun dalam diam seorang ibu pasti selalu ada yang disimpannya untuk kita. Salah satunya adalah Doa-doanya.


oh ibu...........
BalasHapusjasamu tiada dapat kuingkari
senyuman manis yang kau torehkan kepada kami
sangatlah membuat hati kami gembira
janganlah sekalipun terbuang dengan percuma airmata sedihmu untuk kami......
karena setetes air matamu bagaikan air zam zam di tengah keringnya padang pasir.
takkan kami biarkan kau terluka oleh apapun bahkan duri kecil yang tak tampak dengan kasat mata.
oh ibu..........
kaulah surgaku, kaulah malaikatku .......
oh ibu..........
aku menyayangimu seperti aku menyayangi Tuhanku
aku memujamu seperti aku memuja Tuhanku.
terimakasih ibu..........
tertunduk menegadahkan tangan ku berdoa untukmu