Mengenai Saya

Foto saya
Imoet...imoet...imoet... If there is a will, there is a way

Jumat, 31 Desember 2010

Hanya Ingin

Aku hanya ingin bisa segera menikah
Menyempurnakan sebagian Agamaku
Mengharap ridho-Nya
Menjalankan sunnah Rasul-Nya

Aku hanya ingin.....
Bisa segera menjalankan tugasku
Sebagai seorang istri yang sholehah
Dan menjadi seorang ibu yang bijaksana

Rabu, 22 Desember 2010

Selamat Hari Ibu

                                                 PERSEMBAHAN UNTUKMU
                                         BUNDA


Bunda.....
Sejenak... aku teringat masa kecilku
Ketika engkau peluk dan engkau belai tubuh ini
Saat aku menangis..dan disaat aku ketakutan
Ketika engkau puji dan engkau marahi diri ini
Saat aku bisa membuatmu bangga...dan saat aku berbuat salah

Bunda....
Saat ini aku sedang merenungkan...
Setiap hal manis dan pahit yang pernah kita lalui bersama
Setiap tetes keringat pengorbananmu
Dan setiap api semangat pertarunganmu

Bunda....
Aku sadar....
Mungkin sampai hari ini
Aku belum bisa membahagiakanmu
Tapi Bunda....
Coba dengar gemuruh hati ku ini
Yang selalu berbisik....
                          Aku akan selalu berusaha membuatmu bahagia dan bangga

                                           Bunda...
                                              Sampai kapanpun....
                                          Jasamu takkan pernah bisa terbalas
                                       Walau segunung emas sekalipun ku hamparkan dihadapanmu.
                                                      Perjuanganmu takkan pernah terhapus dimemoriku
                                             Walau aku mati sekalipun

                                           Bunda...
                                             Maafin ananda....bila sampai hari ini
                                          Aku masih menyakitimu
                                               Maafin ananda...bila sampai hari ini 
                                                  Masih ada kekecewaan dihatimu..

                                         Bunda...
                                          Sampai kapanpun...
                                         Engkau adalah bidadariku...
                                         Engkau adalah semangatku untuk terus berjuang
                                        Dan engkau....selalu ku sayang...

                                          Bunda...
                                            Hari ini...tiada kata manis yang keluar dari bibirku
                                            Selain kata....
                                            Selamat Hari Ibu "Bunda"...
                                            Semoga Allah selalu menyayangimu..


22 Desember 2010
By: ananda yg sll menyayangimu


Senin, 13 Desember 2010

Semua Tentangmu "Teman".....

PART IV
HANYA SEKEDAR PENGHIBUR HATI


   Semenjak adanya pernyataan bahwa kaki Fariz harus dioperasi, pihak keluarga Fariz semakin gencar untuk mencari pengobatan alternatif lainnya sekuat tenaga dan semangat agar operasi bukanlah jalan satu-satunya untuk penyembuhan. Karena informasi yang mereka dapat dari efek operasi tersebut terlalu banyak. Mereka masih berharap dapat menemukan jalan pengobatan yang benar - benar bisa menyembuhkan Fariz.

   Kondisi Fariz semakin parah, baik secara fisik maupun mental. Bahkan dia tidak mau dilihat siapapun, termasuk aku, kecuali keluarganya saja. Melihat kondisi Fariz yang semakin parah, keluarga Fariz membawanya ke salah satu pengobatan alternatif, yang direkomendasikan orang yang mereka kenal. Disana mereka mendapatkan beberapa ramuan obat-obatan, serta kata - kata yang menyatakan penyakit Fariz Insya Allah akan sembuh. Karena pemilik pengobatan tersebut pernah menangani penyakit yang jauh lebih parah dari ini. Pengobatan demi pengobatan pun dijalani hingga sampai kepengobatan yang ke 8kali. Namun sedikitpun hasilnya belum terlihat juga. Bahkan setiap kali selesai pengobatan, sore harinya badan Fariz panas,demam serta muntah-muntah. Dan Fariz sendiri merasa kalau pengobatan tersebut tidak bereaksi apa-apa selain kakinya yang semakin mengecil dan susah digerakkan. Karena kondisinya yang begitu terus, Fariz minta untuk menghentikan pengobatan tersebut. Namun sang Ayah justru berniat untuk tetap menghabiskan tahap-tahap pengobatan tersebut, dengan meyakinkan Fariz bahwa dia harus bersabar menjalaninya. Atas bujukan sang ayah akhirnya Fariz masih melanjutkan pengobatan tersebut.

    Allah selalu mempunyai rencana tersendiri untuk hamba-hambanya. Baik itu rencana yang membahagiakan maupun yang menyakitkan sekalipun. Disaat sang ayah harus mendampingi sibuah hati untuk terus berobat,  dalam suasana hati yang sedih,pilu,bingung...ternyata Allah masih memberikan cobaan yang lain secara bersamaan kepadanya. Tiba-tiba saja beliau mendapat kabar bahwa sang istri ibu dari Fariz dan anak-anaknya yang lain jatuh sakit. Sang istri sakit berawal dari melemahnya daya tubuh karena selalu menghawatirkan keadaan anaknya Fariz. Sehingga tanpa disadarinya beliau terjatuh dikamar tidur sampai beliau pingsan. Dan yang lebih menyedihkan lagi sang ayah tidak mengetahuinya bahwa saat mereka tidur sang istri ternyata tidur dalam keadaan masih pingsan. Karena waktu kejadian tersebut, sang ayah dari pagi hari keluar rumah untuk mencari obat yang akan dibawanya kemedan. Setelah dapat beliau langsung pulang dan hari sudah larut malam. Bahkan sampai keesokan harinya sang ayah juga belum tau sampai dia berangkat ke Medan. Nah...setelah di Medan lah sang ayah baru mengetahui kejadian tersebut.

Memang berat jika kita harus dihadapkan dengan dua pilhan secara bersamaan. Apalagi kita dituntut untuk benar-benar harus tegas memilih satu dari dua pilihan tersebut. Yaaahhh....itulah yang sedang dihadapi sang ayah waktu itu. Beliau harus memilih salah satu dari mereka. Tetap bertahan menemani sibuah hati di Medan...atau pulang ke Nias untuk melihat keadaan sang istri. Akhirnya dengan istiqomah sang ayah memutuskan untuk kembali ke Nias. Keputusan itu diambil beliau setelah berdiskusi dengan Bunga. Keesokan paginya, sang ayah pergi meninggalkan Fariz dengan langkah sedikit berat, demi melihat kondisi sang istri tercinta.

Waktu terus bergulir...namun tak ada perubahan tentang Fariz. Kondisinya semakin melemah, dan rasa sakit yang menghantuinya semakin menjadi. Hingga suatu hari salah seorang kerabat mereka kembali merekomendasikan salah satu tempat pengobatan. Rasa bingung pun melanda Fariz dan Bunga. Tentu saja mereka merasa bingung, karena mereka masih ragu-ragu untuk menerima saran tersebut, dan pihak keluarga yang di Nias sama sekali belum tahu tentang usulan tersebut. Sengaja Bunga tidak memberitahu tentang hal itu ke ayah atau keluarga yang lain, dengan alasan Bunga tidak mau sang ayah jadi tidak fokus untuk merawat sang Ibu. Bunga dengan hati-hati meminta beberapa pendapat dari orang-orang yang disekelilingnya, termasuk aku. Merasa telah mendapatkan beberapa saran yang sama menurut femikirannya, beberapa hari kemudian Bunga menghubungi kerabat mereka tersebut dan menyatakan bahwa Fariz bersedia untuk mengikuti pengobatan tersebut. Memang tidak dipungkiri..cara pengobatan yang sebelumnya hampir sama dengan cara pengobatan yang sedang mereka jalani. Beberapa ramuan obat serta kata mutiara yang mereka dapat hampir semuanya sama. Sama - sama mengatakan bahwa ada kemungkinan untuk sembuh. Namun hasilnya tetap saja nihil.  Dan itu semua hanya sekedar penghibur hati bagi Fariz.. Pernah suatu hari, aku ingin menjenguk Fariz walaupun hanya sekedar say hello seperti yang sering aku atau semua orang lakukan kepadanya, Namun belum sempat bibirku berucap....tiba - tiba Bunga melarangku untuk menghampirinya. Spontan saja aku terkejut dan langsung bertanya ke Bunga, kenapa? Bunga menjelaskan bahwa Fariz tidak ingin dilihat siapapun kecuali  Bunga. Karena kondisi Fariz sudah sangat parah. Yang awalnya dia masih bisa berdiri dan memegang tongkat jika ingin berjalan kekamar mandi atau hanya sekedar keteras depan, kini kakinya sama sekali tidak bisa digerakkan. Jangankan untuk berdiri, bergerak bergeser dari duduknya sulit dilakukan. Bahkan kekamar mandi dia lakukan dengan cara mengesot dilantai. Allahu Akbar..miris hatiku saat itu. Tak dapat ku bayangkan jika aku diposisi seperti itu.

Dengan keadaan seperti itu, Fariz pun semakin merasa minder, dan mungkin saja dalam hatinya sudah merasa sangat putus asa. Karena belum ada hasil yang mereka dapat dari beberapa pengobatan yang mereka jalani. Fariz meminta Bunga untuk menghubungi sang ayah agar segera datang ke Medan. Namun kali ini bukan untuk menemaninya berobat lagi akan tetapi meminta untuk membawanya kembali ke Nias dengan alasan Fariz rindu keluarganya yang disana serta ingin menangkan diri dan fikirannya sambil menstabilkan kembali rasa traumanya dan beban mentalnya. Sang ayah pun datang dan keinginan Fariz dipenuhi. Khirnya Fariz kembali lagi ke Nias untuk beberapa hari dan setelah itu akan kembali lagi ke Medan.
Menurut informasi yang aku dapat, beberapa hari setelah berada di Nias, mental dan kondisi Fariz sedikit membaik. Terlebih tentang perasaan traumanya. Perlahan-lahan Fariz sudah mulai bisa dan berani memegang tongkatnya.

Tepatnya setelah seminggu Fariz di Nias...kini dia datang lagi ke medan untuk mencoba beberapa pengobatan yang lainnya. Kembali mendatangi beberapa dokter untuk konsultasi dan mencari jalan keluarnya. Akan tetapi sang ayah berniat untuk membawa Fariz  berobat ke Pineng Malaysia. Dan saat ini....sang ayah sedang mengurus semua persyaratan keberangkatan mereka. Fariz terlihat siap untuk mencoba pengobatan disana. Dan Insya Allah.... tanggal 24 Desember 2010 ini mereka akan berangkat..

Terimakasih saya ucapkan karena sudah bersedia membaca blog ini...dan sekali lagi saya minta doa-doa'a untuk kesembuhan Fariz...